blog  

OPINI: Khalifah Allah Al-Mahdi dan Al-Mubasyirat

*Oleh_Sari Kumala*

Kondisi umat Islam di akhir zaman ini sangat merindukan sosok pemersatu yang akan menyatukan seluruh elemen umat Islam di seluruh penjuru dunia. Umat Islam juga merindukan kepemimpinan yang memberikan keadilan dan hidup yang penuh keberkahan.
Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyampaikan bahwa umat Islam akan dipimpin oleh seorang yang adil dan memenuhi dunia dengan peradaban Islam. Sungguh pesan itu senantiasa melekat dalam memori umat Islam.
Namun, tersebarnya banyak fitnah, sosok yang dinubuwatkan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut menjadi abu-abu seiring kemunculan orang-orang yang dipersepsikan sebagai Khalifah Allah Al-Mahdi.
Kebingungan itu tidak hanya dirasakan oleh umat Islam yang awam, akan tetapi kalangan ulama juga demikian. Sehingga, umat Islam tidak mengenal baik Khalifah Allah Al-Mahdi, malah antipati terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Khalifah Allah Al-Mahdi.
Oleh karena itu, mari kita mengkaji dengan berharap Rahmat Allah menyertai kita sehingga kita dapat melihat dengan terang sosok Khalifah Allah Al-Mahdi yang kehadirannya telah dinubuwatkan 1400 tahun lalu.
Dalam Shahih Sunan Nasa’i nomor 1108 dan Shahih Sunan Ibn Majah nomor 1588;
“Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam suatu saat menyingkap tirai, dan kepalanya dililit (diperban) dengan kain karena sakit — yang akhirnya menyebabkan beliau meninggal dunia — lalu Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Ya ALLAH, telah kusampaikan (Beliau mengulanginya tiga kali), sesungguhnya tidak tersisa lagi Wahyu Kenabian, kecuali mimpi yang benar (Al-Mubasyirat) yakni mimpi yang dilihat seorang muslim atau diperlihatkan kepada seorang hamba.'”
Dalam Shahih Bukhari, nomor 6475, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kenabian tidak ada lagi selain berita gembira,” Para Sahabat bertanya: “Apa maksud kabar gembira?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Al-Mubasyirat (mimpi yang baik).”
Dalam sunan Ibnu Majah, nomor 3887: “Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Al-Mubasyirat (mimpi yang benar) adalah bagian dari tujuh puluh (70) bagian kenabian.”
Dalam Sunan Abu Daud nomor 742, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya berita gembira kenabian (Wahyu Kenabian) telah tiada, kecuali Al-Mubasyirat (mimpi yang shalih/benar) yang dimimpikan oleh seorang muslim atau yang diperlihatkan kepadanya.
Perhatikan dengan seksama!
Dalil hadits tersebut menyampaikan bahwa telah habis masa Wahyu Kenabian, yang tersisa Al-Mubasyirat (mimpi yang baik/benar). Utusan Allah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah utusan Allah yang terakhir menerima Wahyu Kenabian. Sedangkan utusan Allah berikutnya yakni Khalifah Allah Al-Mahdi menerima petunjuk, bimbingan dan arahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam lewat Al-Mubasyirat (mimpi yang baik/benar).
Yang tersisa adalah Al-Mubasyirat (mimpi yang baik/benar). Al-Mubasyirat adalah sebuah wasilah yang digunakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan kepada utusan-Nya di akhir zaman yakni Khalifah Allah, al-Mahdi. Hanya orang yang diberikan Rahmat khusus oleh Allah ‘Azza Wajalla yang bisa melihat Al-Mubasyirat yang diterima oleh seorang hamba-Nya yang dikehendaki-Nya sebagai petunjuk yang datangnya dari Allah ‘Azza Wajalla, selain dari mereka hanya menganggap Al-Mubasyirat hanya sekadar bunga-bunga tidur, dongeng dan kebohongan. Nauzubillah billahi min dzalik.
Mari kita lanjutkan, sekarang kita bertanya dimanakah kita mengetahui bahwa utusan Allah di akhir zaman adalah Khalifah Allah, Al-Mahdi?
Mari kita perhatikan dengan seksama dalil berikut ini:
Nabi Muhammad bersabda: “Jika kalian telah melihat bendera hitam yang keluar dari arah timur Khurasan, datangilah dia walaupun harus dengan merangkak di atas salju karena di sana ada Khalifah Allah, Al-Mahdi.” (HR al-Hakim)
Al Mahdi muncul di sebelah timur Khurasan. Dan sebelah timur Khurasan adalah Pakistan.
Dari hadits tersebut kita melihat bahwa Khalifah Allah dan Al-Mahdi adalah sosok yang sama, yang muncul dari arah Timur Khurasan yakni Pakistan.
Di Pakistan, seorang lelaki yang sederhana, tidak religius yang bernama Muhammad Qasim bin Abdul Karim menerima Al-Mubasyirat terus-menerus sejak berumur 4 tahun. Dan pada saat berumur 40 tahun Allah memerintahkan kepadanya untuk menceritakan semua Al-Mubasyirat yang telah diterimanya.
Muhammad Qasim bin Abdul Karim dalam Al-Mubasyirat dari balik tabir ia berdialog dengan Allah sebanyak lebih dari 500 kali; dan berjumpa dan berdialog dengan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sebanyak lebih dari 300 kali. Beliau diberikan ilham untuk menuliskan setiap mimpinya. Buku Al-Mubasyirat (Mimpi yang baik/benar) beliau sebanyak 389 halaman bisa didownload di https://muhammadqasimpk.com/id.
Al-Mubasyirat yang diterimanya berupa petunjuk untuk mendapatkan pertolongan Allah yakni dengan menjauhi syirik dan pengkhabaran tentang Umat Islam, Pakistan, Islam dan Akhir Zaman.
Salah satu Al-Mubasyirat yang diterimanya adalah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menemuinya dan menyampaikan khabar bahwa suasana perpolitikan di Pakistan akan terjadi konflik yang menyebabkan seorang politisi Pakistan yang bernama Nawaz Syareef akan terbunuh. Pihak militer akan mengambil alih kekuasaan pemerintah. Panglima Militer yang mendengar cerita mimpi Muhammad Qasim mulai percaya. Saat ia percaya pada mimpi Muhammad Qasim, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam akan masuk ke dalam mimpi petinggi militer itu dan memberikan kesaksian atas kebenaran Al-Mubasyirat Muhammad Qasim. Dan meminta kepada panglima militer itu untuk menyerahkan pemerintahan kepada Muhammad Qasim. (Lihat: Bagaimana Pakistan Sukses Dan Pesan Allah ‘Azza Wajalla Untuk Panglima Militer. Mimpi itu dilihat pada 28/09/2016. Halaman 258-259).
Saat itulah, Khalifah Allah punya wilayah dan memerintah dengan sistem Islam secara Kaffah. Jadi proses kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, kaum muslimin tidak melalui proses Tholabun Nusroh ke Ahlul Qowwam seperti yang telah ditempuh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dahulu. Akan tetapi, Beliau Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang terlibat memerintahkan panglima militer untuk menyerahkan kepemimpinan negara kepada Khalifah Allah, Al-Mahdi Muhammad Qasim bin Abdul Karim.
Khabar itu pasti akan terjadi, hanya soal waktu. Al-Mubasyirat datangnya dari Allah ‘Azza Wajalla maka setiap yang disampaikan atau diperlihatkan dalam Al-Mubasyirat Muhammad Qasim pasti akan terjadi.
Dalam Al-Mubasyirat pada 7/06/2015, Muhammad Qasim melihat dirinya diundang ke Madinah oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam lalu ke Mekkah. Ia melihat dirinya berada di masjid yang besar. Orang-orang melihatnya memiliki cahaya. Orang-orang itu meminta diberikan cahaya karena situasi penuh dengan kegelapan. Lalu ia melihat dirinya mengarahkan telunjuknya ke langit dan mengeluarkan cahaya dari Rahmat Allah ke seluruh penjuru dunia. (Lihat halaman 265-266. Cahaya Allah ‘Azza Wajalla Dan Kemenangan Umat Islam. Diperlihatkan dalam Al-Mubasyirat pada 7/06/2015)
Kita lihat hadits lagi yang berkesesuaian dengan Al-Mubasyirat yang diterima Muhammad Qasim.
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah mengatakan: “Utusan Allah berjanji bahwa kita akan menyerang India. Jika aku hidup (cukup lama) untuk melihatnya, maka aku akan mengorbankan diriku dan kekayaanku. Jika aku terbunuh, maka aku termasuk ke dalam golongan syahid, dan jika aku selamat, maka aku akan menjadi Abu Hurairah Al-Muharrar (yang terbebas dari api neraka).” (Sunan An-Nasa’i).
Diriwayatkan bahwa Thawban, budak yang dibebaskan dari Rasulullah, berkata:”Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Ada dua golongan dari umatku yang Allah akan bebaskan dari api neraka: yaitu golongan yang akan menyerang India dan golongan yang akan bersama Isa bin Maryam Alaihi Salam.” (Sunan An-Nasa’i)
Dalam Al-Mubasyirat yang diterima Muhammad Qasim, ia melihat dirinya memimpin pasukan umat muslim berperang melawan India (Ghazwatul Hind). Dalam peperangan itu, umat Islam banyak yang syahid namun peperangan dimenangkan oleh Pakistan. Pakistan akan menguasai India, Kashmir, Afghanistan, Bangladesh dan memiliki kontrol penuh ke atas wilayah tersebut. Beliau juga melihat Indonesia dan Malaysia menyertai pasukan Pakistan berperang di Timur Tengah, Perang Dunia ke-3. Perang Dunia ke-3 akan berlangsung di Timur Tengah selama kurang lebih 4 tahun. Korban meninggal selama peperangan mencapai 800 juta orang dan mayoritas korbannya adalah muslim.
Kita perhatikan sebuah hadits lagi tentang keluarnya Imam Mahdi:
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Bahwasanya al-Mahdi tidak akan keluar hingga jiwa-jiwa yang tak berdosa (suci) terbunuh. Apabila jiwa-jiwa suci itu terbunuh maka penduduk langit dan bumi marah atas kematian mereka. Lalu orang-orang mendatangi al-Mahdi mereka mengaraknya seperti seorang pengantin diarak kepada suaminya pada malam pesta pernikahannya. (Musannif Abu Syaibah).
Perang yang berlangsung di Gaza telah menyebabkan banyak jiwa-jiwa suci (anak bayi, anak-anak yang belum baligh) terbunuh. Dua pekan dari peristiwa pengeboman sekolah PBB tepatnya tanggal 3 Desember 2023 ada pertemuan umat Islam ke-5 bersama Muhammad Qasim yang dihadiri oleh 200 lebih pengunjung untuk melakukan proses tabayun bersama-sama.
Pada pertemuan itu, Muhammad Qasim didandan seperti pengantin yang berkostum jas warna hijau, diarak seperti layaknya pengantin, tersipu malu seperti pengantin dan ia duduk diapit oleh dua orang lelaki seperti pengantin. Kejadian itu bukanlah sebuah kebetulan atau rencana Muhammad Qasim. Akan tetapi, hal itu sudah diatur oleh Allah ‘Azza Wajalla. Peristiwa pertemuan umat Islam yang ber-tabayyun kepada Muhammad Qasim sama persis dengan hadits tersebut.
Mari kita perhatikan hadits berikut ini:
Rasulullah bersabda: “Al-Mahdi itu dari keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Ia memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezaliman dan kelaliman.”
Al Mahdi dari (keturunan)ku. Ia ajla aljabhah dan aqna’ (mancung) hidungnya. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah penuh dengan kedzhaliman dan aniaya. Ia akan memimpin kalian selama tujuh tahun.” [HR.Abu Dawud]
Adapun yang dimaksud ajlah adalah berdahi lebar, yaitu rambut di bagian depan kepalanya rontok. [Al Gharib, Ibnu Qutaybah 1/309]
Al Khaththabi berkata, orang yang ajlah adalah orang yang bagian rambut depan kepalanya rontok, jika rontoknya sampai ke tengah di sebut ajlah. [Al Gharib, 1/79]
Ciri fisik berdahi lebar, rambutnya rontok sampai ke tengah dan berhidung mancung sama persis dengan fisik Muhammad Qasim bin Abdul Karim.
Kita lanjut mengenai namanya dan ayahnya Muhammad Qasim bin Abdul Karim.
Nama Imam Mahdi bukanlah Muhammad bin Abdullah.
Namanya adalah mirip nama Nabi, dan dia berusia 51 atau 52, dan memimpin manusia selama 7 tahun, tetapi kadang-kadang rawi (As-Sumaith) berkata, 8 tahun.
Atsar yang diriwayatkan dari salah seorang Tabiin ini adalah atsar paling shahih yang menunjukkan umur Al-Mahdi.
Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Amru Ad-Dani, pada kitab sunan-nya, no.585 (Ad-Dani: As-Sunan Al-Wandah fi Al-Fitan 5/1064).
Umur Muhammad Qasim sekarang, tahun 2024 adalah 48 tahun jadi 3 tahun lagi akan terjadi pembaiatan ke atas dirinya sebagai Imam Mahdi saat ditengah berlangsungnya Perang Dunia ke-3 di Mekkah sebagaimana yang diperlihatkan kepadanya dalam Al-Mubasyirat yang diterimanya.
Abu Dawud berkata,”Aku meriwayatkan dari Harun Ibnul Mughirah, dari ‘Umar bin Qais, dari Syu’aib bin Khalid, dari Abu Ishaq, ia mengatakan, Ali berkata seraya memandang kepada putranya, al-Hasan, “Sesungguhnya putraku ini adalah seorang Sayyid, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyebutnya. Akan keluar dari keturunannya seorang laki-laki yang diberi nama mirip dengan nama Nabi kalian, mirip dengan beliau dalam akhlak dan tidak mirip dengan beliau dalam kondisi fisik.” Setelah itu, disebutkan kelanjutan kisah, “Yang akan memenuhi bumi dengan keadilan.””
Perhatikan! Mirip dengan nama Nabi, mirip nama ayahnya dengan nama ayahnya Nabi, mirip akhlaknya Nabi, tetapi tidak mirip kondisi fisiknya Nabi.
“Imam Mahdi itu menyerupai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal budi pekertinya. Tetapi tidak menyamai dalam rupa dan bentuk tubuhnya, yakni tidak serupa perihal sifat-sifat badaniyahnya.” (HR. Abu Daud)
Kita perhatikan lagi hadits berikut:
Dari riwayat Abdullah bin Harits, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Manusia akan keluar dari arah timur mengikuti al-Mahdi, yaitu pemimpin mereka. Pada masanya, hujan akan banyak turun dan bumi mengeluarkan simpanannya. menumbuhkan tanaman-tanaman, harta berlimpah, dan banyak ternak.” (HR Ibnu Majah)
Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika kalian telah melihat bendera hitam yang keluar dari arah timur Khurasan, datangilah dia walaupun harus dengan merangkak di atas salju karena di sana ada Khalifah Allah, al-Mahdi.” (HR al-Hakim)
“Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah Timur, lantas mereka memerangi kaum dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.” Kemudian, beliau melanjutkan sabdanya “Maka jika kamu melihatnya, berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju. Karena dia adalah Khalifah Allah, Al-Mahdi.”
Semoga kita semua mendapatkan Rahmat khusus dari Allah untuk melihat bahwa Muhammad Qasim bin Abdul Karim adalah Khalifah Allah yang diutus oleh Allah ‘Azza Wajalla di akhir zaman, yang terus menerus menerima Al-Mubasyirat sebagai wasilah yang digunakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam memberikan petunjuk, bimbingan, arahan dan pengkhabaran kepadanya.
Semoga kita semua Ridha atas ketetapan Allah yang telah memilih Muhammad Qasim bin Abdul Karim sebagai utusan Allah sebagai Khalifah Allah, Al-Mahdi.
Berlindunglah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika masih meragukannya, sholat Istikharah dengan ikhlas memohon petunjuk-Nya. Sungguh telah dinubuwatkan bahwa akan banyak dari umat muslim yang menolaknya, tidak mempercayainya (Al-Mahdi). Pastikan dirimu bukan termasuk golongan yang menolaknya karena konsekuensinya harus bersyahadat ulang. Na’udzubillah min dzalik. [*]